Archive

Archive for September, 2012

Bima muntah-muntah lagi

28 September 2012 Leave a comment

Hmphhh… Kamis,27 September 2012 untuk kesekian kalinya my little boy (18mo) muntah-muntah. Pertamanya ngerasa bersalah juga soalnya hari itu aku pulang kantor aga telat karena harus mempersiapkan acara perpisahan pegawai yang pension. Cabut dari kantor jam 8 malam dan langsung menuju rumah. Seneng banget ketika datang bima melihatku dr atas balkon sambil tersenyum. Tacik, tetangga depan rumah bilang kl bima habis minum susu, ohhh baiklah berarti nenen nya aga malam saja.

Setelah makan dan bersih-bersih badan, akupun mengajak dia tidur di kamar sekitar pukul 20.30. Dia terlihat sudah mengantuk saat itu. Pas mau bobo bima sempat aga mau muntah tp ga keluar apa-apa, akhirnya dia nenen dan setelah nenen dia tak kunjung bobo. Beberapa saat kemudian, hoekkk….isi perutnya keluar. Biasanya dia muntah kalau ga cocok sama suatu makanan, namun hari itu masakan yang aku buat untuk dia adalah menu standar, jadi tampaknya dia ga alergi. Berdasarkan hasil tanya ke pengasuhnya, bima ga makan yang aneh-aneh. Aku ga berani menginterogasi dia takut nanti malah sakit hati dan minta pulang, malah akan membuatku semakin repot, ya sudahlah aku percaya saja. Miris banget liat dia begitu, ga tega, tapi sebagai ibu aku harus tetep sabar. Karena bajunya basah, akhirnya ganti baju lah dia sambir bersihin badannya yg kena muntah.

Jurus pertama terhadap muntahpun langsung kuterapkan. Bikin oralit home made. Ternyata jurus ini gagal, si oralit diminum sedikit, habis itu dimuntahin. Akhirnya kubiarkan dulu lambungnya istrirahat, setelah itu pakai jurus kedua yaitu dengan nenen. Setelah dia selesai nenen kamipun berpandangan, aku melihatnya sambil tersenyum, dia menatapku ingin tersenyun, namun tak lama kemudian dia muntah lagi sampe ke isi perutnya yg paling dalam (semoga dia ga muntah gara-gara melihatku :p). Dia terlihat lemah dan mengantuk, ingin tidur tapi badannya tak nyaman sesekali dia melihat ke arahku sambil memastikan bahwa aku masih di sampingnya, minyak talon yang kubalurkan di tubuhnya tampaknya tak banyak membantu. Minum-muntah, begitu terus sampai pukul 02.00, dan akhirnya dia nenen dan bisa tidur.

Malam yang menguji kesabaran, jadi Ibu sekalugus karyawan dan berjauhan dari pasangan hidup adalah kondisi yang harus kuhadapi saat ini, itu adalah pilihan kami (ayah, ibu, bima). Semua cobaan yang kami hadapi saat ini adalah semata-mata ujian yang akan menjadikan kami lebih kuat.

Advertisements
Categories: Life

i love my job but not the bureaucracy

28 September 2012 Leave a comment

Sudah lama ga nulis-nulis, sebenarnya bukan karena sibuk, tapi lebih karena saya yang males dan ga bisa memanage waktu hehehe….

Well, saya bahagia menjalani pekerjaan sebagai supporting tim sebuah bisnis unit di Surabaya. Disini saya bekerja diantara orang-orang yang selalu ditantang oleh target yang tak main-main, tetapi saya sendiri tidak kebagian target yang luar biasa itu (karena saya ada di supporting). Mungkin bagi sebagian orang, posisi saya ini ga menantang dan ga berkembang, tapi bagi saya ini cukup menyenangkan, karena saya memang bukanlah tipe orang yang berambisi mengejar karier. Cukuplah keluarga saya tercukupi dan mendapatkan kasih sayang, biarlah suami yang mengejar kariernya.

Berada di daerah beda banget sama di Jakarta terutama di kantor pusat. Kalau di Jakarta saya dan atasan (GH) berada pada satu ruangan sehingga bisa sering ngobrol dan selalu mengucapkan selamat pagi setiap hari, sekarang begitu di Surabaya jarak antara kami sangat jauh sekali. Beliau-beliau bak seorang pejabat yang sangat agung. Kalau dulu ketemu GH santai banget, sekarang ini kalo mereka dateng kaya kedatangan pejabat yang maha agung. Persiapannya bener-bener heboh, mulai yang harus menyediakan buah di mobil, booking tempat makan yang bagus, ngecekin hotelnya biar ketika mereka masuk semua sudah perfect, sampe ngasi oleh-oleh yang kadang menurut saya aga lebay. Bahkan ga Cuma GH aja, asistennya juga suka dibeliin oleh-oleh (padahal kan asisten itu samaan kaya saya, cuma dia lebih senior aja)

Di sini juga lebih taat sama peraturan, yang paling kelihatan adalah kesadaran dan kemauan buat pake seragam. Kalau saya sih emang beda, dulu pas di Jakarta saya di supporting unit yang emang ga pake seragam, sedangkan ketika di Surabaya saya di bisnis unit yang emang dapet seragam. Saya sih asik-asik aja pake seragam, soalnya disini semua pada pake, dan dengan pake seragam ga usah pusing mikirin besok mau pake baju yang mana dan beli-beli baju. Tentang seragam ini, saya pernah punya cerita. Suatu saat pas reunion ngobrol sama temen yang di Jakarta, dia bilang kok mau sih kalian pake seragam, di Jakarta jarang ada yang mau pake dan boss-bossnya juga ngebiarin aja. Kl di Surabaya ga pake seragam, bisa diceramahi terus sama manager. Itu salah satu contohnya, belum lagi baju TIPCE yang di Jakarta udah pada di pensiunin sedangkan disini masih terus dipake.

Well, kayanya segitu aja nulisnya, sebenarnya masih banyak lagi birokrasi dan remeh-temeh yang menurut saya terlalu lebay. Kami semua bekerja untuk satu institusi, kami dibayar oleh institusi ini untuk memberikan kontribusi sesuai dengan bidang masing-masing secara professional. Harusnya tanpa remeh temeh itu kita harus bekerja secara professional memberikan yang terbaik untuk institusi ini.

Categories: Life